CFD Suroyo Jadi Ajang “Jemur Bonsai Bareng”, Wali Kota Amin, Bonsai Sebagai Metafora Kehidupan dan Simbol Keharmonisan 2026," 1/2/2026
KOTA PROBOLINGGO,"- jatim.satusuara.co.id (2 Februari 2026) Suasana Car Free Day (CFD) Jalan Suroyo pada Minggu pagi (1/2/2026) semakin hidup dengan digelar kegiatan “jemur bonsai bareng” oleh Komunitas Pecinta Bonsai Konco Bonsai Ngopi Bareng.
Kegiatan yang telah berjalan rutin selama tiga bulan terakhir ini mendapatkan perhatian khusus dari Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin, yang juga merupakan seorang pecinta bonsai.
Komunitas yang aktif sejak beberapa tahun lalu dan awalnya berkumpul di kawasan Pasar Minggu kini tengah merencanakan perluasan kegiatan. “Kita berencana memindahkan lokasi kegiatan ke tempat yang lebih representatif, seperti stadion, agar dapat menampung lebih banyak peserta serta menjadi wadah edukasi dan pameran bonsai yang lebih luas,” jelas Wali Kota Amin.
Menurutnya, bonsai bukan sekadar tanaman hias atau karya seni semata, melainkan sarat akan makna kehidupan yang mendalam. “Bentuk dan struktur bonsai mencerminkan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, sesama manusia, dan alam semesta.
Keindahannya terletak pada keseimbangan batang, cabang, dan ruang kosong, bahkan ruang tersebut menjadi tempat hidup bagi makhluk lain.
Proses pembentukannya juga menuntut keterampilan tinggi, kesabaran yang luar biasa, serta kepekaan seni dari batang utama hingga ranting terkecil,” paparnya.
Beragam gaya bonsai mulai dari cascade, upright, hingga jenis mini dan large menjadi daya tarik utama bagi pengunjung CFD. Pemerintah Kota Probolinggo telah menyertakan kontes bonsai dalam kalender acara tahunan, dan ke depan akan membangun sentra bonsai yang berfungsi sebagai destinasi wisata serta pusat aktivitas komunitas.
Di sentra tersebut, masyarakat dapat belajar tentang perawatan bonsai mulai dari proses wiring, pruning, hingga melihat langsung keindahan koleksi bonsai berkualitas.
Kolaborasi lintas sektor juga tengah disiapkan, antara lain dengan pengrajin batik untuk menciptakan motif bertema bonsai, serta memasukkan bonsai sebagai elemen visual dalam berbagai acara kota. “Bonsai adalah metafora kehidupan manusia, pohon yang dirawat dan dibentuk dengan baik akan menunjukkan potensi terbaiknya, sama seperti manusia yang diberdayakan dengan tepat,” tambah Wali Kota Amin.
Ketua Panitia dan perwakilan komunitas, Yugo Sasmita, menyampaikan bahwa kunjungan Wali Kota merupakan dukungan moril yang sangat berarti. “Sekitar 90 persen bonsai yang ditampilkan adalah jenis santigi, disertai jenis lain seperti kimeng, sakura, sancang, lowa, dan ileng-ileng.
Kegiatan jemur bareng berjalan dari pukul 06.00 hingga 10.00 pagi dengan sekitar 20 peserta, guna memastikan tanaman mendapatkan paparan sinar matahari yang optimal,” jelas Yugo yang telah menekuni bonsai selama lima tahun.
Ia mengungkapkan bahwa selain sebagai hobi, bonsai juga memiliki nilai investasi jangka panjang dengan harga yang bisa mencapai puluhan juta rupiah. Namun demikian, nilai utama komunitas tetap terletak pada kebersamaan dan silaturahmi antar anggota.
Perawatan bonsai jenis santigi khususnya membutuhkan ketelatenan tinggi, bahkan menggunakan air laut sesuai dengan habitat aslinya di kawasan pesisir.
Turut mendampingi, Ketua TP PKK Kota Probolinggo dr. Evariani menyampaikan bahwa kehadirannya didasari oleh kecintaan mendalam terhadap bonsai yang telah terjalin selama puluhan tahun. “Di rumah kami memiliki sekitar 500 koleksi bonsai.
Bonsai mencerminkan filosofi bahwa keindahan tidak datang secara instan, melainkan melalui proses, perawatan, dan pembinaan yang konsisten sama seperti manusia yang perlu digali potensinya agar menjadi pribadi yang bermanfaat.
Bonsai juga menjadi simbol keharmonisan hidup dengan alam, di mana berbagai unsur kehidupan bisa hidup berdampingan,” tuturnya. (Han)



Social Header