Ketan Kratok dan Tradisi Bi Bi Bi Probolinggo Resmi Jadi WBTB Nasional, Wali Kota Aminuddin Terima Sertifikat 2026
MALANG 23 Februari 2026 ,"- jatim.satusuara.co.id Dua khasanah budaya dari Kota Probolinggo, yaitu kuliner Ketan Kratok dan tradisi tahunan Bi Bi Bi, resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia Tahun 2025. Sertifikat penghargaan diserahkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kepada Wali Kota Probolinggo Dr. Aminuddin dalam rangka Festival Takjil Ramadan di Taman Krida Budaya Malang pada Minggu (22/2/2026).
Bersama dengan 44 jenis WBTB lainnya dari seluruh wilayah Jawa Timur,Rangkaian WBTB yang diakui tahun ini mencakup beragam kategori ekspresi budaya, mulai dari seni pertunjukan, tradisi masyarakat, hingga kuliner khas daerah Jawa Timur.
Beberapa di antaranya adalah Batik Ghentongan Tanjung Bumi (Kabupaten Bangkalan), Angklung Banyuwangi (Kabupaten Banyuwangi), Oklik (Kabupaten Bojonegoro), Kupat Keteg (Kabupaten Gresik), Sego Boran (Kabupaten Lamongan), Labuhan Sarangan (Kabupaten Magetan), Bantengan Lereng Semeru (Kabupaten Malang), Wayang Krucil Sriguwak (Kabupaten Ngawi), Kaweng Tengger (Kabupaten Pasuruan), Tari Gambuh Sumenep (Kabupaten Sumenep), Batik Tenun Gedhog Tuban (Kabupaten Tuban), Jaranan Sentherewe (Kabupaten Tulungagung), Seni Sanduk (Kota Batu), Tahu Takwa (Kota Kediri), dan Lontong Balap (Kota Surabaya).
Kami sangat bangga karena dua khasanah budaya Probolinggo resmi mendapatkan pengakuan WBTB nasional. Ketan Kratok sebagai kuliner khas yang telah ada sejak lama, dan Tradisi Bi Bi Bi yang menjadi bagian penting dari perayaan menjelang Idul Fitri, biasanya dilaksanakan tepat pada tanggal 25 Ramadan,” ujar Wali Kota Aminuddin saat ditemui di Kantor Wali Kota Probolinggo pada Senin (23/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa Tradisi Bi Bi Bi merupakan bentuk kepedulian masyarakat Probolinggo terhadap anak-anak, dengan memberikan berbagai kemudahan dan kebahagiaan agar mereka dapat menyambut hari raya dengan penuh kegembiraan. “Kami akan menyelenggarakan tradisi ini secara terpadu dalam acara khusus tahunan, sehingga dapat terus dilestarikan dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat,” ungkapnya dengan semangat.
Untuk menguatkan pelestarian dan pengembangan Ketan Kratok, Pemerintah Kota Probolinggo telah melaksanakan serangkaian langkah, termasuk mengembangkan variasi bentuk dan porsi yang lebih fleksibel.
Dengan inovasi yang tepat, Ketan Kratok diharapkan tidak hanya menjadi hidangan kesukaan masyarakat lokal, tetapi juga menjadi oleh-oleh khas yang dapat mempromosikan nama baik Kota Probolinggo ke seluruh Indonesia,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa pemerintah provinsi mendorong setiap daerah untuk terus mengembangkan potensi budaya lokalnya.
Wali Kota Aminuddin juga menyampaikan bahwa upaya pelestarian budaya di Probolinggo selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto melalui akronim BERSOLEK, khususnya pada poin “Original” yang menekankan pada keaslian dan keunikan budaya daerah.
Nilai ‘Original’ dalam BERSOLEK menjadi landasan kita untuk menjaga dan mengembangkan budaya asli Probolinggo. Melalui berbagai program seperti Batik In Motion, Festival Film Probolinggo, perlombaan Kerapan Kambing, Kerapan Sapi Brujul, pertunjukan tari tradisional, musik dug-dug, serta pengembangan kuliner khas, kita berkomitmen untuk menjadikan budaya sebagai kekuatan pembangunan daerah,” jelasnya.
Gubernur Khofifah menegaskan bahwa penetapan WBTB bukan hanya sekadar pengakuan formal, tetapi juga amanah untuk memastikan setiap praktik budaya tetap hidup dan berkembang, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Warisan budaya adalah identitas bangsa yang harus terus tumbuh dan memberikan kontribusi pada kemajuan sosial dan ekonomi masyarakat. Dengan demikian, budaya tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga menjadi kekuatan utama dalam membangun Jawa Timur yang lebih maju dan berkarakter,” tegasnya.
Dengan pengakuan baru ini, Kota Probolinggo kini memiliki lima WBTB nasional, yaitu Seni Tari Jaran Bodhag (2014), Kerapan Sapi Brujul (2019), Kembang Lamaran (2023), Ketan Kratok, dan Tradisi Bi Bi Bi (2025). (Han).


Social Header