jatim.satusuara.co.id
PROBOLINGGO – 4 September 2026 Tepat genap 667 tahun perjalanan sejarah Kota Probolinggo menjadi momentum berharga bagi Pemerintah Kota Probolinggo untuk meneguhkan kembali arah pembangunan kota. Hal ini disampaikan Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin, saat memimpin Apel Peringatan Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo di Alun-alun Kota Probolinggo, Jumat (4/9/2026) pagi.
Mengusung tema “Bersolek Menuju Kota yang Berdaulat, Adil, dan Makmur”, apel berlangsung khidmat dan dihadiri oleh Wakil Wali Kota Probolinggo, Ina Dwi Lestari, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) beserta istri, Ketua TP PKK dr. Evariani Aminuddin, pimpinan dan anggota DPRD, Sekretaris Daerah, kepala Perangkat Daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta seluruh peserta apel.
Dalam sambutannya, Wali Kota Aminuddin menegaskan bahwa peringatan hari jadi bukan sekadar merayakan usia sebuah kota, melainkan ruang untuk merefleksikan perjalanan panjang Probolinggo sekaligus melihat kembali capaian yang telah dibangun bersama.
Ia mengingatkan bahwa sejarah Kota Probolinggo bermula dari peristiwa dibabatnya Hutan Banger pada 4 September 1359. Kemudian, pada 28 September 1359, wilayah tersebut diresmikan oleh Sang Prabu Hayam Wuruk sebagai pusat pemukiman dan perdagangan hasil bumi. Seiring berjalannya waktu, Probolinggo terus berkembang, terutama setelah Indonesia merdeka. Penetapan sebagai kota administratif pada tahun 1950 menjadi tonggak penting pembangunan kota secara lebih terarah, yang kemudian diikuti peningkatan berbagai fasilitas publik.
Kini, Probolinggo tumbuh sebagai kota yang dinamis dengan tetap mempertahankan sejarah, budaya, keberagaman, tradisi, dan keterbukaan sebagai bagian dari karakter kota. “Dari sejarah yang panjang, kita belajar menghargai perjalanan. Dari capaian hari ini, kita membangun keyakinan untuk menatap masa depan dengan lebih optimis,” ujarnya.
Wali Kota menjelaskan bahwa semangat Probolinggo Kota Bersolek tidak berhenti pada pembenahan wajah kota semata. "Bersolek" dimaknai sebagai upaya bersama membangun kota yang semakin nyaman sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat secara menyeluruh.
Di bidang kesehatan, Pemkot Probolinggo terus memperkuat pelayanan melalui Universal Health Coverage (UHC), digitalisasi posyandu, jam tangan kesehatan terintegrasi, pemenuhan gizi kelompok rentan, hingga perluasan cek kesehatan gratis. Upaya tersebut juga dibarengi percepatan penanganan stunting. Per Desember 2025, prevalensi stunting Kota Probolinggo turun menjadi 9,56 persen, dari 9,88 persen pada tahun sebelumnya.
Di bidang pendidikan, pemerintah terus membuka akses agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan meraih masa depan. Penanganan anak tidak sekolah melalui program Sahabat ATS, pendidikan kesetaraan, penguatan PAUD, Sekolah Rakyat, hingga kolaborasi penguatan numerasi, matematika, sains, robotik, dan teknologi bersama Prof. Masami Isoda dari University of Tsukuba, Jepang, menjadi bagian dari upaya tersebut.
Pembangunan infrastruktur juga terus diarahkan untuk menghadirkan kota yang nyaman, layak huni, dan terkoneksi. Revitalisasi Alun-alun, peningkatan kualitas jalan, penanganan drainase dan permukiman, penerangan jalan, hingga pengembangan GOR A. Yani menjadi bagian dari pembangunan ruang publik yang manfaatnya dirasakan masyarakat.
Konektivitas transportasi dan digital juga terus diperkuat melalui operasional kereta komuter Surabaya–Pasuruan–Probolinggo, rencana renovasi Stasiun Probolinggo, pengembangan jalur rel menuju pelabuhan, penyediaan hampir 100 titik Wi-Fi gratis, penguatan super koridor, serta pemanfaatan superapp B-LINK.
Di sektor ekonomi, Pemerintah Kota Probolinggo terus mendorong UMKM, ekonomi kreatif, investasi, dan pariwisata agar tumbuh bersama. Posisi Probolinggo sebagai kota penyangga Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Bromo-Tengger-Semeru menjadi salah satu peluang yang terus dikembangkan.
Wali Kota menyebut Semipro 2026 menjadi salah satu event yang memberikan dampak signifikan terhadap UMKM, ekonomi kreatif, dan pariwisata, dengan perputaran ekonomi yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp 3 miliar.
Tidak hanya mengejar pertumbuhan, Pemkot Probolinggo juga terus menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Berbagai upaya pengendalian inflasi dilakukan melalui penguatan ketahanan pangan dan kerja sama antardaerah. Hasilnya, Kota Probolinggo meraih peringkat ketiga nasional dalam kategori pengendalian inflasi terbaik tahun 2026, sekaligus memperoleh dukungan pemerintah pusat sebesar Rp 1 miliar.
Di bidang pemerintahan, inovasi pelayanan juga terus dikembangkan. Salah satunya melalui kartu ATM co-branding Amanah Non-Kemiskinan hasil kolaborasi Pemkot Probolinggo dengan Bank Jatim. Inovasi tersebut diarahkan untuk mendukung penyaluran honorarium dan dukungan kegiatan bagi RT, RW, kader posyandu, serta lembaga kemasyarakatan secara tepat sasaran, transparan, dan akuntabel.
Semangat Bersolek juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan. Gerakan GotKu Resik, Kelurahan Bersolek, pengelolaan sampah dari rumah, penguatan bank sampah, dan program satu RW satu kendaraan sampah terus diperkuat. Gerakan tersebut dilengkapi korve serentak di 200 RW dan lima pasar serta penanaman 1.000 bibit pohon. Untuk penanganan sampah dalam skala lebih besar, Pemkot juga menyiapkan kerja sama pengolahan sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) di TPA Bestari dengan kapasitas minimal 70 ton per hari.
Mari kita jadikan kebersihan, penghijauan, dan pengelolaan sampah sebagai bagian dari budaya sehari-hari, sehingga Kota Probolinggo semakin sehat, nyaman, dan berketahanan iklim,” tutur Wali Kota.
Berbagai capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh unsur di Kota Probolinggo. Hal itu juga tercermin dari kondisi keamanan dan ketertiban kota yang hingga saat ini tetap aman dan kondusif. Wali Kota menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, Forkopimda, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta seluruh elemen masyarakat yang telah berkontribusi menjaga stabilitas.
Pada periode ini, Pemerintah Kota Probolinggo juga terus menorehkan berbagai prestasi, antara lain opini WTP untuk kesembilan kalinya secara berturut-turut, predikat AA “Sangat Memuaskan” dalam pengawasan kearsipan, penghargaan bidang pengendalian inflasi, UHC Award, dan berbagai penghargaan lainnya.
Wali Kota menegaskan bahwa penghargaan bukanlah tujuan akhir. “Setiap capaian harus menjadi penyemangat untuk terus berbenah, meningkatkan kualitas pelayanan, dan memastikan setiap kebijakan serta pembangunan benar-benar memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat Kota Probolinggo,” tegasnya.
Wali Kota berharap momentum Hari Jadi ke-667 semakin memperkuat sinergi seluruh elemen masyarakat untuk melanjutkan pembangunan Kota Probolinggo. “Semoga momentum ini menjadi media sinergi yang baik untuk mewujudkan Kota Probolinggo yang aman, tenteram, damai, dan sejahtera,” pungkasnya.
Pada apel pagi itu, Pemerintah Kota Probolinggo juga memberikan tali asih kepada sejumlah PNS yang memasuki purna tugas dan tali asih kepada mitra deradikalisasi. Apresiasi juga diberikan kepada para pemenang Lomba Arsip Foto Kuno yang digelar Disperpusip:
Juara I: Raka Rizal Amin (karya berjudul Asia)
Juara II: Roni Ranggas Adi Putra (karya Pemilih Kepala Desa Sumber Wetan Tahun 1989)
Juara III: H. A. Siddiq (karya Kapten Saroe)
Harapan I: H. Kusnan (karya Lifestyle Pemuda Tahun 1972)
Harapan II: Indek Agustin (karya Anggota Kodim 0820 di Tanjung Tembaga Menuju Pulau Ketapang untuk Pengawasan Pemilu Tahun 1977)
Harapan III: Susi Irawati (karya Kembang Lamaran Tahun 1982). (Red)
Editor: Tim Jatim satu suara



Social Header